Milii dan Francoisii di SmagaJoe

Terlihat mentari di ufuk timur mulai merangkak naik, menunjukkan seberkas sinarnya yang memberi kehangatan, tak enggan melepaskan selimut gelap nan sunyi, embun pun seakan bersemangat menyambut hari baru, menetes, meninggalkan peluh hari kemarin. Suara burung – burung kecil makin menyemarakkan suasana pagi itu, berharap akan datang hari indah penuh bahagia. Di tengah hamparan rumput nan hijau, pohon nan rindang, dan indahnya bunga – bunga yang mulai menampakkan mahkotanya yang indah terselip sebuah kisah.
Terdengar Pak pohon berkata pada Sang angin, “Angin, kenapa sepagi ini kamu sudah meniupkan nafasmu sekencang ini? Tidakkah kamu menaruh belas kasihan pada manusia di bawah sana ?”
Sang Angin menjawab, “Inginku memang tak sepagi ini, tetapi aku harus menjalankan perjanjianku dengan Tuan cuaca, bahwa hari ini akan menjadi hari yang cerah. Jika aku meniupkan nafas sedalam dan sekencang ini, Pak Awan Mendung akan pergi jauh, enggan mendekat. Bukankah itu juga untuk kebaikan manusia di sana?”
“Tapi tahukah kamu, aku jadi bersedih karenanya. Kamu membuatku semakin cepat berpisah dengan Ibu Daun, padahal siang nanti aku berencana memberikan keteduhan pada anak – anak muda itu bersama dengannya. Ini terlalu cepat, aku belum banyak menghabiskan waktu dengannya…”
“Tenanglah, selama manusia – manusia itu merawatmu, akan tumbuh Ibu – Ibu Daun lain yang lebih segar dan memberi keteduhan…”
Pak Pohon meliuk – liukkan dahannya, menari bersama hembusan Sang Angin. Sementara lihatlah di bawah mereka. Beberapa Ibu – Ibu kompleks terlihat kerepotan mengumpulkan Ibu – Ibu daun yang berserakan, berlarian, seakan tak mengikhlaskan hidupnya berakhir di tong sampah, membusuk, kembali ke tanah secepat itu. Melalui celah dahan Pak Pohon, tertangkap jelas beraneka ragam bunga yang tertawa riang, sedang berbasah – basahan bersama Sang Air. Hibiscus Rosa Sinensis yang tak henti – hentinya mengalunkan nada – nada indah. Melati putih yang tak bisa menyembunyikan raut bahagianya pagi itu. Dan lihatlah pula, teman mereka, Mawar Merah tersenyum bahagia, makin menampakkan cantik dan indah bunganya yang bermekaran. Hanya Kaktuslah yang terlihat tetap kering, tanpa ada setetes airpun di tubuhnya yang berduri. Tapi hal ini tidak membuat kaktus bersedih. Matanya tetap memancarkan binaran bahagia, karena inilah yang terbaik untuknya, untuk tumbuhan Xerofit seperti ia, hidup kering, tanpa air. Walau mereka memiliki karakteristik masing – masing, mereka hidup berdampingan, bercanda riang menembus batas perbedaan di antara mereke.
Namun, coba tengok ke pojok taman itu. Ada sebatang tanaman kecil di dalam pot yang usang, hampir pecah berbelah. Dengan bunga yang kering dan sedikit daun yang menempel pada batang yang berduri. Durinya tetap kokoh berdiri, tajam, berlawanan dengan keadaan batangnya yang layu, keriput, hampir mati. Tatapan nanar dan sayu selalu lekat pada tanaman itu. Apakah gerangan yang terjadi padanya? Euphorbia milii, nama bunga itu. Peristiwa yang jarang terjadi ini mengusik rasa ingin tahu tanaman lain.
Dengan rasa penasaran yang begitu besar, Melati putih bertanya pada Milii, “Milii, apakah ada masalah? Kami siap, jika kamu mau berbagi…?”
“Aku hanya merasa sedih karena kepergian kekasihku, Franco! Aku begitu menyayanginya, aku tak rela bila harus berpisah dengannya. Dia telah memberi banyak makna dan warna pada hidupku. Aku tak bisa bila sendiri, aku tak sanggup… dia begitu berarti, terasa sangat berat menjalani hari – hari tanpanya…” tutur Milii panjang lebar.
Kini telah diketahui penyebab Milii bersedih. Memang di taman nan indah itu, telah hilang satu kawan mereka, Euphorbia Francoisii, kekasih Euphorbia Milii. Kematian Franco begitu mengagetkan. Dari desus – desun yang warga taman itu dengar dari para manusia, bahwa kematian Franco disebabkan ketidakbisaannya beradaptasi di lingkungan baru yang beriklim serta bersuhu berbeda dengan habitat aslinya. Franco tergolong tanaman baru pada taman itu. 2 minggu yang lalu, tuan rumah mereka meletakkan Franco disana. Dari cerita – cerita Franco, diketahui bahwa ia berasal dari Madagaskar. Tuan rumah mereka mendapatkan Franco dari kerabat mereka di Amerika lewat paket. Euphorbia Francoisii memang memiliki daya tarik yang besar. Berdaun ungu tua yang menjuntai panjang, berbonggol menarik, bunganya berbentuk seperti bunga euphorbia biasa dengan warna hijau yang mempesona serta batangnya pun tidak berduri seperti halnya euphorbia yang lain, melainkan berbulu halus, sehalus kapas. Keunikan dan keelokan Euphorbia Francoisii ini membuat Euphorbia Milii jatuh hati kepadanya. Sejak perkenalan pertama yang begitu berkesan itu, Franco dan Milii mulai akrab dan diketahui mereka telah menjalin kasih, merajut cinta satu sama lain.
Sayangnya, beberapa hari setelah itu, kesehatan Franco menurun. Bunganya tak lagi tampak bermekaran, daunnya yang indah pun banyak yang berguguran. Esok harinya, batang Franco tumbang, mati, mengakhiri kisah indahnya bersama Milii.
“Milii, kamu tak seharusnya terpuruk sejauh ini. Ini hanyalah siklus kehidupan, ada yang baru tumbuh, ada pula yang mati… cepat atau lambat ini pasti akan terjadi pada kita… dan kebetulan kini giliran Franco untuk pergi…dan lihatlah, masih ada Euphorbia Cylindrifolia yang tak kalah mempesona bukan?” tutur Melati Putih
“Tak semudah itu Melati… aku berbeda denganmu atau Hibiscus rosa Sinensia, aku tak semenarik kalian. Kalian punya segalanya, bunga yang cantik dengan harum semerbak, kalian pasti dengan mudah mendapat perhatian dari lainnya…tapi tidak dengan aku.”
“Tapi karena perhatian itu, asal kamu tahu wahai Milii, aku merasa lebih terkekang, tidak bebas… seharusnya kamu juga banyak belajar dari Pak Pohon..” Ungkap Hibiscus Rosasinensis.
“Tahukah kamu Milii, aku selalu merasa kehilangan dan berpisahan dengan Ibu Daun yang sangat aku kasihi. Hampir setiap detik aku merasakannya, tapi aku tetap kokoh, tegar berdiri, tak goyah walau Sang Angin meniupkan nafasnya sekalipun. Seharusnya kau pun bisa seperti itu…” Nasehat Pak Pohon
Dengan nada putus asa, Milii berkata, “Aku berbeda dengan Pak Pohon, aku tidak punya tubuh sekokoh Pak Pohon, tubuhku kecil, renta tak berdaya. Aku lemah, mudah goyah, bahkan manusia yang merawatku pun merasa kesulitan dan aku bisa merasakan kesulitan itu. Aku tak bisa merasa terlalu kering begitu pula dengan terlalu basah, masalah penyiraman saja terlalu rumit, bukan? Aku tak seberuntung Mawar yang punya bunga indah, wangi, warnanya pun menyala, sungguh mempesona…”
Mawar pun menyanggah, “Asal kamu tahu Milii, dalam hidupku begitu banyak orang yang menyanyangiku, tetapi banyak pula yng membenciku. Aku sering mendengar anak – anak kecil menangis karena tergores duriku… aku ikut merasakan sakit melihatnya, tapi aku tak bisa berbuat apupun untuk itu…”.
“Aku juga punya duri itu Mawar… lebih panjang dan tajam daripada durimu. Andaikan aku bisa memilih, aku tak mau terlahir dengan duri – duri itu… duri yang sering melukai makhluk lain, termasuk tuan rumah yang telah merawat aku sejak kecil. Jujur aku pun tak sanggup melihatnya. Aku ingin menjadi seperti kaktus. Hidup penuh ketegaran, mampu hidup tanpa air… tidak merepotkan manusia – manusia yang merawatnya dan mampu mempertahankan hidupnya dengan air yang terkandung dalam badannya yang berbalut duri…” Euphorbia Milii bercerita sambil menahan air matanya menetes.
Kaktus pun menjawab, “Milii, pada dasarnya, kita diciptakan dengan berbagai karakteristik masing – masing. Mungkin iya, aku bisa hidup tanpa air, namun apabila Sang Hujan tak lagi mampu membendung air yang dikandungnya, apa yang terjadi padaku. Sakit… layu… dan akhirnya mati… kamu punya duri itu, seharusnya duri itu digunakan sebagai sarana perlindungan dan menciptakan ketegaran yang besar, keteguhan yang kuat… jadikan dirimu lebih kokoh berdiri… kamu punya semua yang kamu mau, tetapi satu hal yang tidak kamu punyai, Milii… seseatu yang lebih berharga…”
“Apa itu Kaktus…?” Tanya Euphorbia dengan nada penasaran.
“Apresiasi terhadap dirimu sendirilah yang tidak kamu punya… selalu merasa kurang beruntung dari lainnya. Padahal apa yang ada pada dirimu adalah sesuatu yang terbaik untuk dirimu… kamu tidak pernah menyadari itu. Hal itu membuat kamu lemah, Milii…”
Kali ini, Milii benar – benar tak bisa menahan tangisnya. Terekeam jelas semua yang telah ia lakukan. Terbayang kembali wajah kekasihnya, Franco, entah apa yang dirasakannya kini.
“Milii, jadilah sosok yang kuat. Euphorbia adalah tanaman yang kuat, mampu bertahan hidup selama bertahun – tahun, jangan biarkan masalah sepele seperti ini menjatuhkanmu… kamu punya segalanya… Hidup ini indah Milii, ayo jangan sia – siakan hidup kita ini. Bila keadaanmu seperti ini, bukankah malah membuat manusia yang merawatmu bersedih…??”
Kata – kata dari kawan – kawan Milii sangat menyadarkannya. Kini Melati Putih, Hibiscus Rosa Sinensis, Mawar Merah, Pak Pohon, Kaktus, Euphorbia Milii, serta tanaman – tanaman lain yang ada dalam taman itu berkomitmen untuk tumbuh bersama memberi keindahan dan keteduhan bagi manusia, tentunya selama manusia memberikan timbal balik yang sama pula. Simbiosis mutualisme lah bahasa kerennya…hehe ^_^

COMMUNITY OF SCIENCE ONE
(COS 0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: